Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivation. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

KB dan Skenario Zionis

Dalam Kitab Zohar ada sebuah ayat yang menarik. “Angka Kelahiran Non Yahudi harus ditekan sekecil mungkin”. Ayat ini menjadi landasan teologis untuk mengekang laju pertumbuhan ghoyim (orang-orang non Yahudi). Karenanya, tidak aneh program “dua anak lebih baik” itu diluncurkan rezim Orde Baru era 70-an yang sedang mesranya dengan Barat.

Indonesia tidaklah sendiri. Di China mereka menjalankan Program Kebijakan Satu Anak atau jìhuà shēngyù zhèngcè. Di negeri samba, orang-orang menyebut KB dengan Planejamento Familiar. India juga menjalankan program sama, mereka menyebutnya National Population Policy.

Lalu siapakah Tokoh Yahudi modern yang ‘berjasa’ menjalankan ayat Zohar dalam konteks praksis itu? Namanya memang tidak setenar Darwin, tapi gagasan Evolusionis tokoh Atheis itu merujuk padanya. Betul seperti dugaan anda, pria itu bernama Thomas Robert Malthus (1766-1834)

Thomas Malthus, sejatinya adalah seorang pakar demografi Inggris sekaligus ekonom politk yang paling terkenal karena pandangannya yang pesimistik namun sangat berpengaruh tentang pertambahan penduduk.

Malthus beranggapan bahwa pertumbuhan sumber daya manusia tidak simetris dengan potensi sumber daya alam. Dalam An Essay on the Principle of Population (Sebuah Esai tentang Prinsip mengenai Kependudukan), Malthus membuat ramalan bahwa jumlah populasi akan mengalahkan pasokan makanan. Kondisi ini menurutnya akan menyebabkan berkurangnya jumlah makanan per orang. Pada titik inilah kekacauan akan terjadi. Dan apa yang diramalkan Darwin dengan nama Survival for the fittest akan menjadi keniscayaan.

Anehnya solusi yang ditawarkan Malthus untuk meredakan kemelut itu seakan menyelisihi Islam, yakni apa yang ia sebut sebagai preventive checks atau penundaan perkawinan. Malthus juga mengusulkan bahwa manusia tidak perlu memiliki banyak anak. Ide Malthus itu kini malah dikampanyekan oleh salah satu lembaga KB di Indonesia dengan pemeran salah seorang artis ternama. Menurut mereka menikah dini berbahaya dan dua anak lebih baik.

Pada gilirannya, ide Malthus yang masih sederhana dibuat menjadi praktis oleh kalangan Barat. Maka, muncullah kondom dari Maria Stopes (1880-1950). Alih-alih digunakan sebagai bagian dari kontrasepsi, namun dalam perkembangannya kondom justru dikampanyekan sebagai alat transaksi seks bebas.

Islam sebagai agama mulia sepanjang zaman telah mengatur persoalan ini. Bahwa banyaknhya anak bukanlah petanda kemiskinan seperti yang digembar-gemborkan Malthus dan kronco Yahudinya di PBB.

Yang menjadikan sebagian manusia mengalami kemiskinan atau krisis pangan justru adalah Kapitalisme Rostchild. Mereka lah yang berbondong-bondong mengeruk kekayaan negara-negara berkembang dan ketiga demi mewujudkan New World Order. Mereka juga yang membuat negara-negara miskin semakin melarat berkat tipu daya IMF melalui pinjaman hutang seperti menimpa Indonesia.

Jadi buat apa umat muslim khawatir memiliki banyak anak? Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda, “Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” [Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban dan Sa’id bin Manshur dari jalan Anas bin Malik].

Jangankan manusia, binatangpun mendapat rezeki dari Allah. “Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rizkinya.” (QS 11 : 6). Betul jadi kata Aa Gym, “Kenapa kita takut akan rezeki Allah, gajah aja gak sekolah gemuk-gemuk. Plankton yang hidup didasar laut saja diberi rezeki, bagaimana dengan kita sebagai makhluk hidup yang mulia?


Namun, sebaik-baiknya mereka membuat makar, maka hanya Allah sebagai pihak berkuasa. Hingga kini, jumlah umat muslim di Eropa dan Amerika menlonjak drastis. Melihat fenomena ini, bisa jadi Yahudi sedang gigit jari atau paling tidak frustasi hingga menembak puluhan manusia seperti Teroris Breivik di Norwegia. Allahua'lam. (Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi)

Senin, 09 Januari 2012

Ketika Cinta Tak Mampu Mempertemukan Kita

Saat cinta merekah, semua terasa indah. Tak bisa dipungkiri, bahwa cinta ini dipercaya banyak orang memilki kekuatan yang unik dan dahsyat. Bisa mendekatkan yang jauh. Bisa menyatukan yang berbeda. Bisa menyulap yang sederhana menjadi sangat istimewa.

Kerja cinta memang mengikat. Mengikat antara dua insan sehingga menjadi sepasang kekasih. Mengikat dua insan sehingga menjadi saudara. Mengikat dua insan sehingga menjadi sahabat. Semua bisa seperti itu karena kerja cinta.

Dalam kehidupan berumah tangga, cinta perlu dihadirkan di sana. Bukan hanya memberi warna, namun juga menjadi ruh yang senantiasa menjaga nadi pernikahan agar tetap berdenyut. Jika cinta sudah tak ada, maka biasanya selesailah sebuah rumah tangga, karena tak ada lagi kekuatan yang mendorong masing-masing untuk tetap bersama atas nama cinta.

Perselisihan bukanlah akhir dari segalanya di antara kita
Berapa banyak perselisihan yang justru melahirkan kebersamaan

Kalimat syair di atas hanya akan terjadi jika masih ada cinta yang terus bekerja dan menyemai antara seseorang dengan pasangannya.

Namun, melihat dimensi keagungan cinta, apakah ia sudah merupakan segalanya dalam kehidupan rumah tangga kita?

Perlu kita sadari, bahwa keluarga muslim adalah keluarga yang berorientasi akhirat. Artinya, kebersamaan bersama dengan pasangan kita tentu juga harus diorientasikan jauh ke akhirat sana. Bukan hanya sebatas kehidupan dunia saja. Ketika jiwa meregang nyawa kemudian kebersamaan menjadi selesai begitu saja. Namun kebersamaan di sini harus berujung kebersamaan kelak di surga.

Apakah cinta saja mampu menyatukan kita dengan pasangan kita kelak di akhirat? Mari kita simak baik-baik firman Allah Ta'ala, "Orang yang saling mencintai pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa." (QS. Az-Zukhruf [43] : 67)

Kata Al-Akhillaa' (Orang-orang yang mencintai) berasal dari kata al-khullah (cinta). Namun kata khullah ini artinya adalah cinta yang bukan hanya sekedar cinta. Khullah artinya adalah cinta yang begitu dalam dan besar. Karena itulah Nabi Ibrahim 'alaihis salam mendapatkan gelar Al-khalil (Kekasih Allah).

Akan tetapi, meskipun mereka di dunia memiliki kualitas cinta yang luar biasa, ternyata itu tidak cukup untuk membuat mereka bisa bersanding di surga. Tentu ada kekuatan lain, selain cinta, yang bisa menyatukan kita dengan pasangan kita kelak di Surga. Apa kekuatan itu?

Allah mengatakan, "kecuali orang-orang yang bertakwa." Artinya, orang-orang yang bertakwa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan estafet cintanya sampai kelak di Surga. Pasangan Suami-Istri yang bertakwa kelak akan terus memadu cinta sampai ke Surga.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Itu karena mereka melandaskan cinta mereka kepada pasangannya di atas pondasi ketakwaan kepada Allah Ta'ala. Bangunan rumah tangga Muslim memang harus berdiri di atas pondasi takwa. Adapun cinta, tempatkan ia sebagaimana bidangnya, mengikat dan menyatukan kita dengan pasangan kita. Karena itu memang kerja cinta, bukan sebagai pondasi. Pondasinya adalah takwa. Jika itu tidak kita lakukan, maka bangunan rumah tangga kita terlalu 'ringkih' dan lemah untuk sanggup menopang kebersamaan sampai kelak di Surga.

Allah Ta'ala berfirman, "Maka, apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas pondasi takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik? Ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. At-Taubah [9] : 109)

Ayat di atas sebenarnya berbicara tentang masjid Dhirar, sebuah masjid yang dibangun oleh orang-orang kafir dengan tujuan untuk memata-matai ummat Islam di awal-awal hijrah ke Madinah. Sehingga kata bangunan itu berarti masjid. Namun, kata bangunan tersebut bisa kita kiaskan ke semua bentuk bangunan, termasuk bangunan rumah tangga.

Sebuah rumah tangga yang dibangun di atas pondasi takwa akan hidup nuansa kebaikan di dalamnya. Mereka akan saling mengingatkan untuk senantiasa meniti jalur keta'atan kepada Allah. Bila pasangan khilaf dan kurang maksimal dalam beribadah kepada Allah, maka ia mengingatkannya dan memotivasinya agar terus meningkatkan kualitas ibadahnya.

Inilah cinta yang hakiki. Cinta di atas pilar takwa. Cinta yang membuat seorang Suami tidak tega jika istrinya kelak sengsara di akhirat. Cinta yang membuat seorang Istri tidak rela jika Suaminya kelak dijadikan bahan bakar api Neraka. Sehingga kekuatan takwalah yang kini bicara.

Kekuatan takwa yang akan mendorong Istri untuk selalu ta'at kepada Suami. Kekuatan takwa yang akan membuat Suami selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk masa depan akhirat Istri. Konteks bicaranya adalah akhirat. Sehingga jarum kompas biduk rumah tangga selalu diarahkan ke sana.

Untuk keluarga yang seperti ini, kelak Allah akan berkata kepada mereka, "Masuklah kamu ke dalam surga dan isteri-isterimu (lalu) kamu akan dimuliakan." (QS. Az-Zukhruf [9] : 70)

Ar-Razi mengatakan, kata tuhbaruun (kamu akan dimuliakan), maksudnya kemuliaan disitu bukan hanya sekedar 'ikram' (kemuliaan biasa), tapi kemuliaan yang benar-benar dilebihkan. Hal itu diperkuat dengan penjelasan ayat setelahnya tentang bagaimana orang-orang bertakwa diperlakukan di Surga, "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan cangkir-cangkir. Di dalam Surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata, dan kamu akan kekal di dalamnya. Dan itulah Surga yang diwariskan kepadamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebagiannya kamu makan." (QS. Az-Zukhruf [9] : 71-73)

Ternyata, ada kekuatan yang lebih dahsyat dari cinta. Kekuatan takwa. Sehingga sangatlah layak jika kita sampaikan risalah hati kita kepada pasangan kita. Bunyinya,

Cintaku kepadamu menjadi tidak berarti
Jika tidak melahirkan rasa takut pada Ilahi

Biarkan cinta tetap bersemi. Biarkan takwa selalu memberi arti. Karena sesungguhnya aku ingin kita kelak tetap bisa bersama sampai meraih Surga-Nya.

Minggu, 08 Januari 2012

10 RACUN Psikologis dan Obatnya !!!

Racun pertama : Menghindar
Gejalanya, laridari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.

Antibodinya : Realitas
Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.


Racun kedua : Ketakutan
Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian, kesulitan seksual.

Antibodinya : Keberanian
Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Kebenarian merupakan merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.


Racun ketiga : Egoistis
Nyiyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.

Antibodinya : Bersikap Sosial
Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akn diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.


Racun keempat : Stagnasi
Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.

Antibodinya : Ambisi
Cara : Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.


Racun kelima : Rasa rendah diri
Gejala : Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.

Antibodinya : Keyakinan diri
Cara : Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya aka kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.


Racun keenam : Narsistik
Gejala : Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.

Antibodinya : Rendah hati
Cara : Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.


Racun Ketujuh : Mengasihani Diri
Gejala : Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.

Antibodinya : Sublimasi
Cara : Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.


Racun Kedelapan : Sikap Bermalas-Malasan
Gejala : Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.

Antibodinya : Kerja
Cara : Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.


Racun kesembilan : Sikap Tidak Toleran
Gejala : Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.

Antibodinya : Kontrol Diri
Cara : Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.


Racun kesepuluh : Kebencian
Gejala : Keinginan balas dendam, kejam, bengis.

Antibodinya : Cinta kasih
Cara : Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.

Orang bodoh VS orang pintar

1. Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya dia bisnis. Agar bisnisnya
berhasil, tentu dia harus rekrut orang Pintar.Walhasil Bosnya orang
pintar adalah orang bodoh.

2. Orang bodoh sering melakukan kesalahan, maka dia rekrut orang
pintar yang tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah. Walhasil
orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.

3. Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mendapatkan kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang
untuk membayari proposal yang diajukan orang pintar.

4. Orang bodoh tidak bisa membuat teks pidato, maka disuruh orang
pintar untuk membuatnya.

5. Orang Bodoh kayaknya susah untuk lulus sekolah hukum (SH). oleh
karena itu orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk membuat
undang-undangnya orang bodoh.

6. Orang bodoh biasanya jago cuap-cuap jual omongan, sementara itu
orang pintar percaya. Tapi selanjutnya orang pintar menyesal karena telah mempercayai orang bodoh. Tapi toh saat itu orang bodoh sudah ada di atas.

7. Orang bodoh berpikir pendek untuk memutuskan sesuatu di dipikirkan
panjang-panjang oleh orang pintar, walhasil orang orang pintar menjadi
staffnya orang bodoh.

8. Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan, dia PHK orang-orang
pintar yang berkerja. Tapi orang-orang pintar DEMO, Walhasil orang-orang pintar “meratap-ratap” kepada orang bodoh agar tetap di berikan pekerjaan.

9. Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan
waktu untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh
menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.

10. Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit. Mata
orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.

11. Bill gate (Microsoft), Dell, Hendri (Ford),Thomas Alfa Edison, Liem Siu
Liong (BCA group) adalah orang-orang Bodoh (tidak pernah dapat S1) yang kaya. Ribuan orang-orang pintar bekerja untuk mereka. Dan puluhan ribu jiwa keluarga orang pintar bergantung pada orang bodoh.

PERTANYAAN:

1. Mending jadi orang pinter atau orang bodoh?
2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh?
3. Mulia mana antara orang pinter atau orang bodoh?
4. Susah mana antara orang pinter atau orang bodoh?

KESIMPULAN:

1. Jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.

2. Jadilah Orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh.

3. Kata kunci nya adalah “resiko” dan “berusaha”,karena orang bodoh
perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha
agar resiko betul-betul kecil.
Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk
selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan
mengabdi pada orang bodoh.

9 tips untuk belajar mengatasi rasa malu


1. Jangan malu dari rasa malu Anda. Terimalah diri Anda apa adanya dan anggap hal itu wajar! Kurang dari Anda berpikir, semakin banyak kesempatan berbenah, semakin terbuka lebar keberhasilan.

2. Jangan takut akan pendapat orang lain.
Belajar untuk menerima kritik ketika ada seseorang memberikan respon terhadap diri anda dan membiarkan komentar yg mungkin kurang menyenangkan bagi Anda. Tapi justru itulah tantangannya, anda jadi tahu apa2 yg jadi kelemahan anda sekarang..

3. Bicara tentang rasa malu dengan keluarga Anda.
Jelaskan kepada orang lain apa yang Anda rasakan, Anda dapat mengidentifikasi hal2 apa saja yang membuat Anda tertekan, situasi apa yang anda hadapi, apa yang orang respon terhadap diri anda...

4. Berlatih olahraga dapat membantu Anda meminimalisir rasa malu Anda berkat hubungan sosial yg timbul akibat sering berkumpul dg kawan2.

5. Berperan seperti layaknya teater/pertunjukan untuk belajar bagaimana berbicara kepada orang lain tanpa rasa malu.

6. Belajarlah untuk berkata. Berani mengatakan tidak.
Seringkali kita menerima begitu saja sesuatu yg sebenarnya ridak sreg dengan pilihan hati kita sendiri dikarnakan takut/malu untuk menolaknya... Maka, mulailah dari sekarang... !!

7. Belajar untuk bernapas dengan tenang.
Sebelum ujian atau wawancara kerja misalnya, tarik napas dalam-dalam melalui hidung dan kemudian keluarkan perlahan-lahan untuk mengevakuasi stres dan ketakutan akan hilangnya kesempatan.

8. Berpikir positif.
Jangan berpikir terlalu sempit, ''wah, otak saya tidak encer2 amat.. Mana bisa berhasil''. fikiran semacam itu merupakan salah satu gambarannya. Intinya, anda lupa bahwa suatu keberhasilan ditentukan oleh segelintir kecerdasan, tetapi juga seabrek kesempatan. Yakinlah, bahwa Anda tidak bernilai lebih rendah daripada yang lain, Anda cukup mampu mencapai target yg diinginkan.

9. Bergaul dengan Orang yg Berkompeten Dibidangnya.
Jika rasa malu Anda merusak hidup Anda, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog. Dia akan mencarikan jalan terbaik buat Anda, menemukan kata-kata dan cara-cara untuk membantu Anda menyetir rasa malu Anda.

semoga membantu

Jangan Pernah Bercita-cita Menjadi Orang Sukses!

Wah Admin Bagaimana SIH!!!? kita semua harus bermimpi jadi orang sukses dong!!???

bukannya begitu.... selama ini kita salah menduga, bahwa sukses itu adalah keberhasilan... pencapaian tingkat tinggi, ataupun akhir sebuah usaha.. padahal bukan seperti itu..

jadi seperti Apa??

nih ndan ane jelasin...

Banyak orang yang mengatakan ...

"Makanya belajar yang rajin biar nanti lulus.."

atau ada yang mengatakan

"Berkerjalah dengan sungguh-sungguh dong, kalo sungguh-sungguh Insya Allah sukses"

atau ada yang mengatakan..

"gw pengen cepat-cepat lulus biar cepat cari kerja"


Tapi tahukah ente2 Sekalian??????


KESUKSESAN SEJATI BUKANLAH KETIKA TUJUAN KITA TERCAPAI...

makanya,

kenapa banyak siswa lebih senang selesai sekolah atau istirahat dibandingkan pas waktu belajarnya??

kenapa banyak siswa yang suka menyontek??

kenapa banyak orang yang stress ketika dia mengalami kegagalan....

kenapa banyak orang yang sakit jiwa ketika gagal menjadi Wakil RAkyat saat pemilu??

Kenapa banyak Orang yang koruptor sekarang ini?

kenapa banyak orang yang mencuri, menghalalkan segara cara, atau menipu???



KARENA TUJUAN MEREKA ADALAH "YANG PENTING BERHASIL!!!!"



lha apa yang salah coba dengan tujuan di atas...????

Thomas Alfa Edison

Apa Ente Berpikir Thomas Alfa Edison yang menemukan lampu tujuannya agar dia sukses???

bukan... tujuan dia adalah membuat lampu, bukanlah sukses....

Coba bayangkan, Thomas AE Gagal 999 kali !!!! bahkan dalam versi lain ada yang mengatakan 9999 Kali!!!

apa gak stress tuh orang???? tidak.... karena Kesuksesan sejatinya bukan terletak pada hasilnya...


TAPI KARENA DIA MENIKMATI APA YANG SEDANG DIA LAKUKAN.......




Anda tidak pernah mencapai kesuksesan sesungguhnya sampai Anda menyukai apa yang sedang Anda kerjakan (anonymous)


ente kalo belajar Matematika Pusing??? wajar.. karena ente tidak menikmati pelajarannya...
tapi biasanya karena pengen nilainya bagus, pas sebelum Ujian sistem SKS mode: on tuh siswa (SKS maksudnya Sistem Kebut Semalam)
yang hanya membuat siswa cenderung stress.. atau yang males belajar "mendingan nyontek aja lah..."

kenapa? karena yang mereka kejar adalah "NILAI", seakan-akan "Nilai Bagus = Sukses"

jika dari dulu agan sudah menyukai Matematika.. otomatis kalian sering belajar di waktu luang... dan pas Ujian juga tenang... walaupun berbuat jahat ... paling yang dia lakukan bukanlah "menyontek", tapi "memberi contekan".. kan gitu...
(tapi memberi contek atau contek jangan dicontoh..., contohlah rajin dan sukanya

nah begitu juga dengan berdagang,menjadi DPR, atau jadi Boss... kalau tidak menikmati pekerjaan yang dia lakukan dan lebih menikmati uang yang di dapat... kadang-l\kadang ada keingingan menghalalkan segala cara.. atau kalo tidak... dia mengeluh karena pekerjaannya...

tapi jika mereka memang menyukai pekerjaan tersebut,

tidak ada yang menghalalkan segala cara,
toh dia sudah menyukai kehalalan pekerjaan tersebut...

tidak ada yang mengeluhkan pekerjaannya sendiri..
toh mereka sudah menikmatinya..

tidak ada yang stress ketika pendapatannya rugi...
toh mereka lebih menikmati usahanya daripada hasilnya

bahkan ketika mereka gagal, mereka langsung bangkit dari kegagalan tersebut dan kembali berusaha seperti apa yang dilakukan Thomas Alfa Edison.



Janganlah menjadi Pekerja Keras... tapi jadilah Penikmat Pekerjaan (Bob Sadino)

Bob Sadino
dan usulan dari Saya...

Jadikan Hobi Sebagai Pekerjaan yang 'bisa' menghasilkan uang,

Karena JIKA KITA SUDAH MENIKMATINYA.....
Fokus, sungguh-sungguh, konsisten dalam pekerjaan, dan masalah2 lainnya
akan Kalian hadapi dengan lebih Mudah....

jadi yang harus diingat adalah:

Kesuksesan sejati bukan terletak pada hasil, melainkan terletak pada proses.


Kesuksesan sejati bukan sesuatu yang kita dapatkan, tetapi sesuatu yang kita lakukan


Kesuksesan sejati tidak usah ditunggu di masa mendatang, karena hari ini juga Anda Bisa Sukses!!!!

Jadi... Janganlah sekedar bermimpi untuk Sukses!!! Nikmati saja Apa yang kita Kerjakan... maka otomatis kesuksesan ada di tangan kita...

tapi ingat, ada hobi yang cenderung menuju kebaikan, ada juga yang sebaliknya.... kesuksesan anda semu jika pekerjaannya lebih cenderung menuju keburukan

Nah Pertanyaannya untuk ente sekalian
Apakah ente sudah menikmati apa yang ente Lakukan Hari ini????

"Bukan Pukulan ke 1000 yang menghancurkan batu, Tapi pukulan ke 1 sampai ke 999 yang membuatnya hancur, dan pukulan terakhir hanya sebagai hasil"(Pepatah)

satu lagi ndan... UANG JANGAN DIJADIKAN TUJUAN!!!! makanya ada DPR yang tidur atau Males... karena TUJUAN MEREKA TERCAPAI!!! ga perlu kerja capek juga dapet duit... KALO TUJUANNYA bener-bener untuk RAKYAT!! Hasilnya akan Beda!!!

SEDIKIT MENIKMATI HASIL!! TAPI BANYAK MENIKMATI PROSES!!!

Jumat, 06 Januari 2012

Hakikat Dan Kekuatan Manusia Sebagai Makhluk Akhirat

Oleh, dr. Flora Ekasari Sp.P

Pernahkah kita menyadari bahwa manusia hakikatnya makhluk akhirat? Bahkan Allah sendiri yang menghendaki kehidupan akhirat bagi kita sesuai tujuan penciptaan-Nya, bukan sebagai makhluk dunia dengan kehidupan dunia seperti yang kita sangka dan inginkan. Kedudukan kita sebagai ibaadullah (hamba-hamba Allah) dan wakil (khalifah) Allah) [1] di muka bumipun adalah dengan kewajiban tunduk patuh kepada aturan Allah semata untuk tujuan akhirat. Allah adalah Pencipta yang Maha Mengetahui, bukan hanya perihal manusia saja dan perjalanan suatu bangsa sebelum bangsa itu tercipta misalnya namun juga segala hal terkecil yang ada di alam semesta yang sangat luas ini. Diapun amat sangat teliti dalam hal penetapan suatu peraturan dan pembalasan-Nya terhadap mereka yang taat kepada peraturan Allah Swt maupun yang melanggarnya.

Bersamaan dengan hakikat dari Ilahi ini dengan akal dan jiwa yang bersih kita dihadapkan pada kemampuan memaknai hakikat kehidupan kita dan hakikat kehidupan secara keseluruhan. Pemahaman hakikat ujian dan cobaan yang merupakan sebuah kaidah pokok bagi sebuah kehidupan adalah penting agar dapat menyelamatkan kita untuk dapat kembali kepada Allah dengan hati yang bersih menuju kampung akhirat dengan selamat. Sesungguhnya manusia akhirat itu adalah yang paling teliti dan sungguh-sunguh mendeteksi setiap ancaman yang dapat menghalangi dirinya dan keluarganya maupun umatnya masuk surga dengan selamat, sedangkan hak Allah adalah menguji siapa yang paling bertakwa dan siapa yang menolong agama Allah.

Bagi manusia akhirat kehidupan yang kita jalani seperti aturan berbangsa bernegara, demokrasi, HAM, sistem ekonomi, perpajakan, informasi dan komunikasi, penegakkan keadilan, pelayanan kesehatan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebagainya harus dikembalikan lagi nilainya dihadapan Allah swt, dikembalikan lagi pada peraturan Allah swt [2] yang unik dan sempurna demi untuk mencapai keridhaan-Nya, bukan penilaian manusia semata. Keberhasilan dan kegagalan suatu bangsa, kita ridha atau tidak, mau atau tidak mau, menerima atau tidak, tolok ukur utamanya adalah sistem kehidupannya mampu melewati ujian dan cobaan [3] sehingga kaum musliminnya baik sebagai individu, keluarga maupun masyarakat dan pejabat negara dapat selamat hidup didunia dan akhirat, di dunia sebagai tempat ujian dan cobaan3, atau sebagai ladang akhirat/mazra'atul akhirah, dimana kita harus mempersiapkan bekal takwa dan amal shaleh sebanyak-banyaknya untuk kembali kepada Allah menuju kampung akhirat dengan selamat. Jika hal itu belum tercapai seperti maraknya syirik, mistik dan ramalan; adanya bank-bank konvensional yang mempraktikan riba; keterlibatan pejabat dalam berbagai kejahatan seperti bersikap munafik, khianat, penipu, diktator, dan ber-KKN yang hidupnya bermegah-megahan, sedang rakyatnya sendiri menderita kemiskinan dan kelaparan; belum lagi kejahatan lainnya seperti larangan penggunaan jilbab, penindasan, kezaliman, ketergantungan kepada asing dan sebagainya, maka harus kita akui dihadapan Allah baik sebagai individu, masyarakat dan pemerintah bahwa telah terjadi pelanggaran hak Allah dalam aturan hidup. Janganlah seperti Pemerintahan kaum munafik dari kalangan "Islam liberal" dan "sekuler" yang menghalangi tegaknya aturan Allah, hukum syari'at Islam, karena melihat untung ruginya dari segi kekuasaan yang ingin dipertahankan didorong oleh hawa nafsunya dan didukung oleh negara-negara kafir adidaya, namun berlepas tangan dari akibat buruk sistem yang diciptakannya dan rakyat yang dizaliminya.

Negeri Akhirat Patut Dicari

Negeri akhirat Allah janjikan jauh lebih mulia daripada dunia dan seisinya dan keadilannya sangat sempurna. Pemahaman dan keyakinan penuh iman terhadapnya membuat seseorang lebih bernilai istimewa dalam kehidupan didunia yang dia ada didalamnya. Bagi orang yang berilmu adalah lebih baik beramal, berjuang melawan rasa malas, tidur panjang dan kesenangan lainnya, karena rasa harap dan takut yang senantiasa meliputi dirinya, terutama terhadap urusan ini, urusan akhirat yang menjadi impiannya, dan tidak akan mungkin ada kesombongan terselip dalam hatinya untuk menjual ilmunya untuk mempertahankan kehidupan dunianya semata.

Bagi orang yang bekerja dan beramalpun keyakinanannya hanya satu seperti dalam ayat Al Quran bahwa Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaannya dan balasan Allah sangat sempurna (QS. At-Taubah:105). Siapakah yang ingin lebih sempurna dalam bekerja jika keyakinan itu sudah ada, mereka akan bekerja keras dan berhati-hati, menempatkan akalnya dalam mempertimbangkan dan mempertanggung jawabkan secara seksama setiap hal dan menyadari diluar itu hanyalah kesenangan yang menipu belaka. Adakah hal lain yang lebih bisa menjelaskan rahasia keteguhan, ketenangan, harapan terus menerus, kesabaran dan upaya yang tak pernah berhenti seorang mukmin untuk menegakkan kebenaran akan menentang kebatilan dan kezaliman, peduli terhadap masalah umat bahkan dunia keseluruhannya dengan menyebarluaskan dinul Islam dimuka bumi ini, mendatangkan kasih sayang, silaturahmi, keadilan, keteraturan, ketertiban, kebaikan bagi lingkungannya bahkan sampai akhir hidupnya untuk akhir amalnya. Ingatannya tertuju pada motivasi dari Allah untuk berlomba-lomba menuju kebaikan, ampunan dan Ridha-Nya. Berkat pertolongan Allah di dunia dia akan menjadi cahaya yang menerangi sekitarnya. Jangan kita putuskan Rahmat Allah ini dengan meragukan janji-Nya sehingga tidak istiqamah dalam ketaatan bahkan mengganti aturan islam dengan aturan kafir dan prilaku kaum kafir dengan sikap taklid buta dan tasyabbuh/menyerupai sampai masuk ke lubang biawak dan menikmati hidup didalamnya sampai akhir hayatnya dan lupa pertanggung jawabannya dan kewajibannya terhadap agama Islam dan umatnya, naudzubillah min dzalik.

Motivasi Dari Allah Swt

Manusia akhirat akan selalu rindu pada Penciptanya, rindu, patuh dan taat pada setiap ketentuan dan peraturan, menerima takdir dan meyakini hakikat daripada qadha dan qadar untuk dirinya karena dia sadar hanya dengan itulah hidupnya akan ringan. Dia sadar Allah telah mengambil janji kepada dirinya untuk tidak menyembah selain Allah, bertauhid dan beribadah yang benar termasuk menjauhkan hawa nafsunya dan bisikan setan. Allah pun memerintahkan untuk berpikir kenyataan bahwa setan dan bujukan orang munafiklah yang menyesatkan dan melalaikan manusia agar tidak berada di jalan Allah yang lurus sehingga memilih jalan-jalan yang akan mencerai beraikan umat dan menjauhkan umat dari Islam sebgai way of life atau pedoman hidup.

Manusia akhirat sadar bahwa perjalanan waktunya didunia sangat sempit padahal adalah hal yang sangat pasti bahwa dia harus mempertanggung jawabkan dihadapan Allah segala perbuatannya untuk agamanya, umat, keluarga dan dirinya. Kesadaran ini adalah bentuk rasa syukurnya kepada Allah swt. Diantara janji Allah akan kenikmatan surga, dia selalu ingat siksa yang diringankan adalah bara api neraka sebesar kerikil diletakkan dijari jemarinya sementara panasnya mencapai ubun-ubun. Tuntunan kaum salaf mengatakan tidak ada ibadah dan bekerja yang pahalanya melebihi rasa takut kepada Allah akan siksa neraka disertai rasa takut terhadap kemunafikan dan keburukan batinnya. Namun demikian Rasulullah saw berpesan dan bersabda agar jangan sekali-kali kali kita meninggal kecuali berprasangka baik kepada Allah itulah bagian dari Rahmat Allah swt, untuk berharap hanya kepada Allah namun tidak lalai akan dosa-dosa kita. Harapannya seorang hamba adalah semoga Allah menetapkan hati atas ketaatan kepadaNya.

Sejak awal Allah telah memberi petunjuk tujuan diciptakannya manusia melalui kitab-kitabNya, nabi-nabi dan Rasul-rasulNya. Diantara rahmat Allah terhadap seluruh hamba-Nya ialah bahwa Dia menjelaskan dalam kitab-Nya Al Qur'an yang mulia bahwa dunia ini adalah negeri ujian, cobaan dan bersifat fana (tidask kekal) dan hanya jalan penghubung menuju akhirat sehingga jangan menjadikannya tujuan dan pengetahuan tertinggi. Allah swt memberi motivasi kepada seluruh hambaNya agar mereka berhasil dalam menghadapi ujian duniawi supaya mereka kelak memperoleh surga-Nya, Allah menginginkan pahala bagi hamba-Nya diakhirat sedangkan manusia menginginkan harta yang banyak didunia. Diturunkannya Al Quran dan diutusnya Rasullullah saw serta cara hidup beliau, gaya hidup istri-istrinya dan perjuangan beliau yang kemudian dilanjutkan para sahabatnya dan sejarah kegemilangan Islam adalah menjadi petunjuk dan pelita untuk memunculkan kebijaksanaan, kesadaran dan keyakinan yang memudahkan usaha kita menemukan eksistensi diri untuk beramal maksimal sesuai tuntunan al qur’an. Dalam hadits Bukhari (45683, 6996) dijelaskan manusia diciptakan dimuka bumi untuk beramal menurut apa yang dimudahkan baginya untuk misi sucinya, berarti dengan akalnya tidak ada seorangpun kehabisan kemampuan untuk beramal, masalahnya amal itu diterima Allah atau tidak jika tidak ingin disebut merugi.

Motivasi dari Allah akan memunculkan kecerdasan manusia akhirat berupa keyakinan bahwa penegakan aturan hidup islam tidak saja untuk memperoleh kebahagiaan dan ampunan Allah di akhirat tetapi juga untuk mencapai kesempurnaan dan keselamatan hidupnya didunia di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan sebagainya baik muslim ataupun bukan. Jika kita dikaruniakan menjadi bangsa yang merdeka oleh Allah kita wajib mengisinya dengan amal terbaik, menjauhkan hal yang menghalangi tujuan kebahagiaan dunia dan akhirat baik yang berasal dari dalam diri sampai paham yang jelas-jelas menjadi musuh nyata, semisal ajaran sekuler yang memisahkan agama dari urusan masyarakat dan negara atau paham liberal yang menganggap semua agama benar dan tidak boleh beranggapan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Jangan sampai tergadaikan keimanan kita untuk selain yang diridhai Allah yaitu dinul Islam (QS. Al-Maidah: 3).

Imam Abu Hanifah berkata bahwa semua ketaatan adalah wajib berdasarkan perintah Allah, dan hal itu disukai, diridhai, diketahui, dikehendaki, ditetapkan, ditakdirkan oleh Allah. Sedangkan maksiat semuanya diketahui, ditetapkan, ditakdirkan Allah dan dikehendaki Allah, tetapi Allah tidak menyukai dan tidak meridhai hal itu, bahkan Allah tidak memerintahkannya. Imam Ahmad bin Hambal mengimani takdir baik dan buruk semua dari Allah, bahwa Allah mentakdirkan ketaatan dan kemaksiatan, kebaikan dan keburukan. Karenanya wajib bagi kita untuk menjalankan ketaatan karena perintah Allah, menjauhkan apa yang tidak diridhai Allah meskipun hal ini sedang kita jalani. Manusia akhirat akan selalu berubah dan berjuang agar pantas memasuki negeri akhirat dengan ridha dan diridhai Allah swt. Maka marilah kita menimbang diri kita, keluarga dan pemerintahan kita apakah akan mampu mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah swt. Jika anda baru pulang berhaji, maka anda harus menjadi contoh manusia akhirat itu. Karena esensinya rukun Iman dan Islam adalah menuntun seorang hamba untuk tujuannya menjadi makhluk akhirat yang insyaallah surga tempat tinggalnya yang abadi.

Catatan Kaki

[1] Sebutan khalifah/wakil Allah hanya bisa dipakai untuk Nabi Adam a.s dan Nabi Daud a.s, maka tatkala sayyidina Abu Bakr dilantik sebagai khalifah ada yg memangilnya dgn khalifah Allah, beliau marah dan mengatakan aku ini bukan khalifah Allah tapi khalifah Rasulullah SAw. Oleh karena itu, diganti dgn berikut: sebagai penguasa dan pemimpin yg mewarisi bumi ini dgn izin Allah Swt (QS. An-Nur: 55)
[2]. QS. Al-An’am:57, QS. Yusuf:40, QS. Al-Maidah:44,48,49
[3]. QS. Al-Mulk:2

Minggu, 11 Desember 2011

Pendeta Hindu: "Saya Rela Melepas Kenyamanan Hidup Demi Islam"

"Ini adalah nikmat Allah yang tiada tara. Dia telah melimpahkan kekayaan yang tak ternilai harganya pada saya, sebuah agama yang benar, yaitu Islam. Saya merasa menjadi orang yang paling beruntung dan paling sukses di dunia," demikian ungkapan Dr. Saroopji Maharaj saat ditanya bagaimana perasaannya setelah masuk Islam.

Dr. Maharaj adalah seorang tokoh Hindu terkemuka di Achariya Mahant, India. Ia beserta istri dan anak perempuannya masuk Islam pada bulan Ramadhan tahun 1986 di kota Bhopal, India. Setelah menjadi muslim, Maharaj menggunakan nama islami Islamul Haq.

"Setelah bersyahadat dan menjadi seorang muslim, saya merasa menemukan kehidupan yang lebih terarah dan terlepas dari liarnya kehidupan duniawi selama ini," ujarnya.

Tokoh terpandang, kaya dan berpendidikan di lingkungannya ini mengaku masuk Islam atas kemauan sendiri, setelah melakukan pencarian dan mempelajari beragam ajaran agama. Dalam pencariannya itu, Dr Maharaj akhirnya menemukan kebenaran Islam dan ia ingin menjadikan dirinya contoh untuk menolak pandangan masyarakat dunia yang selama ini menuding Islam disebarluaskan dengan kekerasan, dengan pedang.

Dr. Maharaj lahir dan dibesarkan di tengah keluarga Hindu yang taat. Ia sendiri pernah bekerja sebagai pendeta agama Hindu di beberapa institusi agama Hindu di India. Tugasnya, selain menyebarkan ajaran Hindu, mendata dan melatih para siswa calon pendeta.

Sebagai seorang doktor di bidang ilmu agama dan orientalisme, Dr Maharaj pernah diundang Paus Santo Paulus VI berkunjung ke Vatikan. Dalam kunjungannya, ia mengaku mendapat tekanan kuat agar ia mau menerima ajaran Katolik. Ia diminta untuk memberikan ceramah dengan tujuh topik berbeda. Namun ia berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Paus memberikan penilaian terbaik atas topik kekristenan yang dipaparkan Maharaj, dan untuk itu ia diberi penghargaan kehormatan berupa pengakuan sebagai warga kota Vatikan.

"Meski demikian, saya sama sekali tidak tertarik dengan ajaran Kristen. Saya pulang ke India dan melanjutkan pekerjaan saya sebagai pendeta agama Hindu," ujar Maharaj yang menguasai 12 bahasa asing ini.

Dr. Maharaj mempelajari 10 ajaran agama yang ada di dunia. Tapi, jauh sebelum memutuskan masuk Islam, Maharaj mengakui kebenaran ajaran Islam. Pada tahun 1981, ia diundang oleh Dada Dharam, seorang tokoh agama Hindu yang cukup dikenal masyarakat internasional. Dhram tiba-tiba menanyakan pada Maharaj, "Engkau sudah mempelajari berbagai agama di dunia. Agama mana yang menurutmu terbaik untuk manusia?" Jawaban Maharaj atas pertanyaan itu adalah "Islam".

Dharam lalu berkata, "Tapi Islam adalah agama yang terlalu mengekang umatnya".

Maharaj menjawab, "Agama yang disebut sangat mengekang itu, juga memberikan kebebasan. Justru agama yang dianggap tidak mengekang manusia malah memperbudak manusia. Manusia membutuhkan agama yang tetap 'mengekang'nya, agama yang mengatur manusia dengan ketat dalam masalah kehidupan duniawi, tapi membebaskannya dalam kehidupan akhirat kelak. Menurut saya, cuma Islam yang memenuhi kualifikasi sebagai agama yang paling baik."

"Islam memiliki akar yang kuat dan abadi. Takkan ada kekuatan di bumi yang bisa menghancurkan atau melenyapkannya. Islam mungkin bisa hilang dari kehidupan seorang muslim yang imannya lemah. Tapi Islam, biar bagaimanapun juga, akan terus tumbuh dan berkembang sepanjang masih ada seorang muslim yang memiliki semangat hijrah dan kemenangan, sepanjang dalam diri seorang muslim masih ada antusiasme untuk bersyukur dan bertakwa," papar Maharaj.

Setelah menjadi seorang muslim, Dr Maharaj melepas semua kekayaan harta benda dan kenyamanan hidup yang ia miliki selama ini. Ia rela melepas itu semua demi Islam. "Menjadi orang terkaya tidak akan memberikan kebahagiaan dan kepuasan pada diri saya, seperti yang saya dapatkan dari agama Islam," ujarnya.

Ditanya soal pendapatnya tentang sosok muslim yang baik. Maharaj menjawab bahwa tidak ada muslim yang lebih baik daripada Nabi Muhammad Saw. Namun ia mengatakan bahwa muslim yang baik seperti lebah yang hanya mau hinggap di bunga-bunga yang indah dan wangi, bukan di tempat-tempat yang kotor. Lebah memberikan madu, dan bukan racun. Madu yang bermanfaat bukan hanya untuk mereka sendiri, tapi juga makhluk lain seperti manusia dan hewan lainnya.

"Itulah sebabnya, saya bersungguh-sungguh mengajak semua muslim di dunia agar tetap berpegang dan mematuhi apa yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad Saw, berjalan menyeberangi sungai dunia dan sampai ke seberang dengan aman ..."

"Masih banyak waktu bagi kaum Muslimin untuk memperbaiki diri dan berkonsentrasi pada visi mereka pada kebenaran. Jika kaum Muslimin memiliki sikap seperti itu, Insha Allah, kita akan sukses dalam hal apapun yang kita lakukan," tukas Maharaj.

Dr Maharaj berencana untuk membuat gerakan dakwah yang kegiatannya mencakup upaya membela dan melindungi Islam, memberikan dukungan dan menggalang persatuan kaum Muslimin dan menyebarkan ajaran Islam yang mulia ke seluruh dunia dengan damai. (kw/TTT)

Yusuf Motloung: Berawal dari Lembaran Brosur di Tempat Pembuangan

Meski latar belakang pendidikan Ntsane Motloung adalah Studi Alkitab dan pendidikan keagamaan, ia merasa kecewa karena isi Alkitab tidak menjawab banyak pertanyaan di kepalanya. Untuk bertanya pada gurunya pun percuma, karena agama Kristen menolak "pemikiran kritis" penganutnya. Buku-buku teks yang dibacanya pun tidak memberikan jawaban yang memuaskan.

Di tengah kegamangannya itu, Motloung mulai mencari informasi tentang agama secara umum. Ketika hampir putus asa mencari informasi yang diinginkannya, ia menemukan sebuah brosur bertajuk "Is Bible God's Word?' yang diterbutkan oleh Islamic Propagation Center International (IPCI) Durban.

Motloung tertarik dengan isi brosur itu dan akhirnya berkorespondensi dengan IPCI Durban. "Meski beberapa halaman dalam brosur yang saya temukan hilang, saya masih bisa mengakses dua hal penting; alamat IPCI Durban dan beberapa informasi di halaman brosur yang masih tersisa menginspirasi saya dan membuat saya ingin bertanya lebih banyak lagi," kata Motloung.

Moutlong makin bersemangat untuk menanyakan banyak hal ke IPCI Durban, setelah ketua misionarisnya menemukan brosur itu--ketika itu Motloung sudah bertugas mengajar agama Kristen di sekolah milik pemerintah sebagai salah satu mata kuliah wajib yang harus diambilnya--dan sangat marah pada Motloung begitu tahu isi brosur tersebut, apalagi ia adalah bakal menjadi seorang guru agama Kristen.

Sang ketua misionarisnya dengan nada marah malah mengatakan pada Motloung bahwa Islam adalah agama yang musyrik karena para penganutnya menyembah berhala bernama "Allah" dan Nabi Muhammad (Saw.) Namun Motloung mengabaikan perkataan itu. Ia malah berkorespondensi dengan IPCI Durban dan meminta dikirimi brosur lebih banyak lagi. Dari korespondensi dan brosur-brosur dakwah yang dikirim IPCI Durban itulah Motloung mengenal agama Islam.

"Saya pertama kali tahu banyak tentang agama Islam lewat brosur IPCI yang saya pungut dari tumpukan bacaan di sebuah tempat pembuangan. Saya menemukan brosur itu di saat saya benar-benar putus asa mencari sumber informasi untuk mencari tahu lebih banyak tentang agama secara umum.

Namun ada cerita lain yang akhirnya membuat Motloung memutuskan masuk Islam, meninggalkan agama Kristen Lutheran yang dianutnya, serta pekerjaannya sebagai guru agama di sekolah minggu.

"Saya memutuskan masuk Islam setelah seorang muslim menyarankannya untuk menjadi seorang muslim. Waktu itu, saya kebetulan menumpang mobil muslim itu ketika akan berkunjung ke salah satu guru saya pada tahun 1986. Saya tidak langsung mengiyakannya, karena tidak ada seorang muslim pun di kota kami yang bisa menjadi tempat buat saya belajar dan menjalankan kewajiban-kewajiban saya sebagai muslim," ungkap Motloung.

Selama tiga tahun--dari 1986 sampai 1989--Motloung hanya bisa membayangkan bahagianya menjadi seorang muslim. Keinginannya untuk mengucap dua kalimat syahadat tercapai pada tahun 1989, dan ia menambahkan nama islami Yusuf di depan namanya.

Sampai tahun 1992, Yusuf Ntsane Motloung belajar Islam pada organisasi Gerakan Dakwah di Durban dan sampai sekarang aktif berdakwah di pusat-pusat dakwah Gerakan itu, yang ada di sekitar Durban. (kw/TTT)

Berawal dari Lapangan Sepakbola, Pemuda Prancis Mantap Jadi Seorang Muslim

Matthieu Cioccocini. pemuda berusia 22 tahun asal Prancis ini pertama kali belajar agama adalah agama Islam. Sejak kecil, kedua orang tuanya tidak pernah menanamkan pendidikan agama, karena ayahnya seorang ateis dan ibunya yang beragama Katolik juga jarang ke gereja.

Beruntung, Cioccocini yang lahir di kawasan timur laut Prancis--sebuah wilayah yang berdekatan dengan Belgia--sejak usia 13 tahun pindah ke South Western Coast yang banyak komunitas imigran muslimnya. Diantara teman-temannya di kalangan imigran muslim, hanya Cioccocini yang asli orang Prancis.

"Pertama kali menerima pelajaran agama, adalah tentang agama Islam. Terima kasih buat teman-teman dan keluargaku, serta semua kawan-kawan muslim dari Maroko, Turki, Aljazair dan Tunisia," ungkap Cioccocini.

Bersama mereka, Cioccocini sering berolahraga bersama. Suatu hari ketika sedang bermain sepakbola, anggota dari kelompok dakwah Fi Sabilillah datang ke lapangan, dan memberikan ceramah agama Islam. Cioccocini dan teman-temannya menghentikan permainan, dan mendengarkan ceramah itu. Itulah awal Cioccocini mengenal Islam.

Mulanya, Cioccocini menghindar ketika kelompok itu datang dan memberikan ceramah agama Islam. Salah seorang anggota Fi Sabilillah lalu memanggil Cioccocini untuk ikut mendengarkan, kemudian mengundangnya datang ke masjid untuk melihat dan mengetahui sendiri apa dan bagaimana agama Islam.

"Saya datang ke masjid dan mulai tertarik. Saya memutuskan untuk datang lagi ke masjid untuk ikut salat, bertanya pada banyak orang tentang Islam dan saya makin jauh terlibat dalam agama ini," ujar Cioccocini, yang sekarang sedang mengambil gelar master di bidang administrasi bisnis di Universitas Victoria, Selandia Baru.

"Bisa dikatakan, saya sangat tertarik dengan agama Islam, karena sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang agama. Saya terkagum-kagum, misalnya melihat orang berpuasa, tidak makan apapun di siang hari selama satu bulan. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa orang-orang itu melakukannya," imbuhnya.

"Bahkan hanya selama Ramadan, bahkan dalam beragam manifestasi dalam agama Islam setelah Ramadan, seperti Hari Raya Idul Fitri dan sejenisnya, buat saya sangat menakjubkan. Saya lalu memutuskan untuk mendalami agama Islam," sambung Cioccocini yang bercita-cita ingin terjun ke bidang bisnis internasional.

Usia Cioccocini mungkin masih sangat muda ketika akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Namun kedua orang tua Cioccocini tidak keberatan puteranya masuk Islam. Teman-teman muslim Cioccocini agak terkejut melihat sikap orang tuanya itu, "Oleh sebab itu mereka menganggap saya sebagai anak sendiri, dan ingin banyak membantu saya. Mereka tidak mau saya kecewa. Mereka menganggap saya sebagai bagian dari keluarga besar. Ini sangat mengesankan," ungkap Cioccocini.

Cioccocini memang beruntung karena tidak harus menghadapi penolakan dari kedua orang tuanya, seperti yang sering dialami para mualaf. Kedua orang tua Cioccocini memberikan kebebasan baginya untuk memilih. Di sisi lain, orang tua Cioccocini ingin putra mereka berada di lingkungan yang aman dan bagi ayah-ibu Cioccocini masjid adalah tempat yang aman, tidak seperti jalanan dimana anak-anak bisa saling memaki, mencuri dan tawuran.

"Mereka lebih senang saya berdiam diri di masjid daripada sering keluyuran di jalanan," kata Cioccocini tentang sikap ayah dan ibunya.

Cioccocini berpendapat bahwa Islam adalah hal terbaik untuknya. Islam mengajarkannya untuk saling menghormati pada setiap orang, membentuk pola pikirnya dan mengajarkan bagaimana ia harus berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Islam juga mendorong umatnya untuk selalu belajar dan menuntut ilmu.

"Sayang sekali, beberapa teman saya tidak tertarik atau tidak mau melibatkan diri dengan Islam. Mereka akhirnya menjadi pecandu narkoba atau pecandu minuman keras ... menjalin hubungan pria dan wanita sebelum menikah ... Beruntung saya menemukan Islam dan Islam banyak menolong saya dalam menjalani kehidupa sehari-hari," tukas Cioccocini.

Ia juga berpendapat, Islam "obat penyembuh" bagi mereka yang membutuhkan. Cioccocini mencontohkan, para tahanan di dalam penjara yang berusaha untuk belajar Islam, mereka akhirnya menjadi orang-orang yang sangat baik. Mereka yang kecanduan narkoba atau minuman beralkohol, ketika mengenal Islam mereka bertobat dan menjadi bersih kembali.

"Islam adalah obat penyembuh yang paling manjur, dan Allah Swt. adalah dokter yang paling hebat yang bisa kita temui untuk merawat kita. Jika kita sungguh-sungguh menemukan-Nya, Dia akan banyak membantu kita," kata Cioccocini.

Sejak memutuskan menjadi bersyahadat, Cioccocini mengaku tidak pernah menghadapi persoalan terkait jadi dirinya sebagai orang Prancis sekaligus sebagai seorang muslim. Namun ia tak mengelak, bahwa sekarang ini di Eropa, orang mulai ketakutan melihat perkembangan Islam yang begitu pesat. Mereka melihat Islam sebagai agama yang terlalu cepat masuk ke Eropa dan khawatir melihat banyak orang Eropa yang masuk Islam.

Masyarakat Prancis, kata Cioccocini, pada umumnya percaya saja dengan apa yang diberitakan media massa tentang Islam, bahwa Muslim itu teroris dan senang berpoligami, bahwa perempuan itu direndahkan dan citra negatif lainnya yang ciptakan media tentang Islamd dan Muslim.

"Mereka percaya saja dan tidak berusaha mencari kebenarannya. Mereka tidak berusaha membuka buku dan percaya saja dengan apa yang mereka dengar ..."

"Tapi untungnya, orang-orang di sekeliling saya mulai memahami bahwa Islam tidak seburuk yang mereka sangka, karena mereka melihat perilaku dan sikap saya pada mereka, dan melihat bahwa saya bisa menjadi seorang mahasiswa yang baik, dan Islam tidak sejahat seperti yang mereka yakini selama ini," papar Cioccocini.

"Begitu pula dengan kedua orang tua saya. Saya sempatkan berdiskusi dengan mereka, dan mereka mengatakan bahwa akhirnya mereka tahu kalau Islam adalah hal terbaik untuk saya, bahwa saya sangat beruntung telah menemukan Islam, padahal kedua orang tua saya bukan seorang muslim," sambungnya.

Cioccocini menyatakan sangat bahagia menemukan Islam dan berharap ia bisa istiqomah sebagai seorang muslim. Islam akan menjadi bagian pendidikan untuk anak-anak, istri dan seluruh aspek kehidupannya kelak.

"Saya cuma ingin berpesan pada semua orang, berusahalah dari diri sendiri untuk mengenal Islam. Bukalah buku. Membaca dan belajar bukan hal yang sulit. Anda bisa buka internet atau Youtube dan sejenisnya untuk menemukan Islam. Insya Allah, Allah Swt akan menolong kalian," tandas Cioccocini. (kw/oi)

Mustafa "Steven" Samuel, Syok Saat Pertama Kali Baca Quran

Butuh waktu 25 tahun bagi Steven untuk menemukan Islam dan meyakini bahwa Islam-lah agama kebenaran, yang mampu menjawab semua pertanyaan yang selama puluhan tahun mengusik alam pikirannya.

Setelah melalui pencarian panjang, pada tahun 2009, Steven mantap bersyahadat dan hidup sebagai seorang muslim dengan nama islami Mustafa Samuel.

Ia lahir dalam keluarga penganut agama Kristen Ortodoks, dan mengenyam pendidikan di berbagai sekolah Kristen, mulai dari yang berbasis Katolik, Protestan, Maronit, Kristen Ortodoks dan aliran Kristen lainnya. Pengalaman ini membuat Steven memiliki cukup bekal pengetahuan agama, sekaligus membuatnya berpikir kritis terhadap ajaran Kristen yang diketahuinya.

"Saya tidak pernah benar-benar menerima dogma yang diajukan pada saya. Saya adalah orang yang akan selalu menanyakan apa saja, termasuk soal agama," ujar Steven.

Masa Pencarian

Ia mengingat kembali perjalanan hidupnya di era 1990-an, masa dimana ia benar-benar serius mencari tahu tentang banyak hal. Steven juga memutuskan pindah tempat tinggal dari Sydney ke Queensland, karena ia merasa Sydney bukan tempat yang baik buat dirinya.

"Saya pernah bekerja di sebuah toko minuman keras selama lima tahun, dan saya pernah menyaksikan perilaku manusia yang sangat buruk, yang tidak pernah Anda bayangkan. Saya kira, pengalaman ini mengguncang keyakinan saya akan kemanusiaan," ungkap Steven.

Setelah pindah ke Queensland, Steven berusaha mencari kebenaran yang ia inginkan, dan berdoa pada Tuhan agar menunjukkan kebenaran itu, dan ia akan menerimanya.

"Selama masa itu, saya ikut jamaah Mormon, Saksi Yehovah dan jamaah beragam aliran agama Kristen untuk menemukan kebenaran yang saya cari. Tapi saya tidak pernah bisa mendapatkan jawaban yang saya inginkan, 'mengapa saya di sini?', 'apa tujuan keberadaan saya?'" tutur Steven.

Peristiwa serangan 11 September 2001 di AS, menjadi titik balik pencarian Steven. Selama ini, di tengah pencariannya akan kebenaran, Steven tidak pernah melirik ajaran Islam, dan ia tidak tahu sama sekali tentang Islam.

"Saya tidak terlalu berusaha mencari tahu lebih jauh tentang Islam. Tapi saya kira, saya merasa bahwa mungkin umat Islam adalah umat yang benar-benar menjalankan ajaran agamanya dengan benar. Melihat bagaimana seluruh dunia bersikap perang terhadap orang Islam, satu hal yang menurut saya masuk akan, mungkin karena kaum Muslimin berada di jalur yang benar," ungkap Steven.

Namun cahaya Islam belum menerangi hati Steven. Steven masih terus melakukan pencarian dan melakukan perjalanan ke berbagai negara, mulai dari AS, Amerika Tengah, Eropa, termasuk ke Italia untuk bertemu dengan keluarganya, lalu ke Dubai dan Singapura.

Selama lima hari kunjungannya di Dubai, Steven berniat untuk melihat sendiri bagaimana Islam yang sebenarnya, karena Dubai adalah negara muslim. Tapi Steven mengaku kecewa, karena Dubai tidak seperti gambaran kota islami seperti yang ia bayangkan. Tapi ada satu hal yang benar-benar menarik perhatian Steven saat di Dubai.

"Saya pergi ke sebuah museum di sana, dan diseberang jalan museum saya melihat sebuah masjid. Saya benar-benar ingin menyeberang jalan dan melihat masjid itu untuk mencari tahu tentang Islam. Saya tidak sadar hari itu hari Jumat, saat umat Islam menunaikan salat Jumat. Saya belum paham ketika itu. Saya juga mengenakan pakaian kasual seperti yang digunakan warga negara asing lainnya, sementara orang-orang di masjid mengenakan busana lokal. Padahal saya benar-benar ingin sekali ke masjid itu," ungkap Steven.

Hidayah Quran dan Islam

Keinginannya untuk masuk ke masjid tidak pernah tercapai, karena ia harus kembali ke Australia. Steven mulai mencari tahu sendiri tentang Islam. Tahun 2006, ia membeli Quraan pertamanya, yang ia baca dalam kurun waktu 2,5 tahun. Steven mengaku syok, saat membaca isi terjemahan Quran.

"Saya baru tahu kalau Nabi Musa, Nabu Lut dan Nabi Nuh, serta nabi-nabi lainnya juga diceritakan dalam Quran. Saya benar-benar kaget dan berseru dalam hati 'Oh, wow'. Tak ada satu pun dalam Quran yang ingin mengobarkan perang atau mengarah pada kata ekstrimisme atau terorisme, atau apalah. Rasa ingin tahu saya makin besar. Oleh sebab itu, selama dua selanjutnya saya terus mempelajari Islam. Saya baca Quran sekali lagi," papar Steven.

Steven mengaku sudah ingin masuk Islam pada tahun 2008, tapi ia tidak menemukan seorang muslim yang bisa membantunya. Ia mengontak sebuah masjid, mengirim surat elektronik, dan meminta dikirimkan Al-Quran. Tapi tak ada yang menjawab suratnya. Ia jadi berpikir, "Baiklah, mungkin Allah tidak menginginkan saya menjadi seorang muslim" dan ini membuatnya agak panik.

Tahun 2009, Steven kembali ke Sydney dan bertemu seorang muslim yang menurutnya sangat ramah, namanya Samir. Awalnya Steven berpikir Samir bukan muslim karena tidak berjenggot, dan Samir punya menantu bernama Adam yang membuat Steven berpikir keduanya adalah Kristiani.

Saat itu, Steven sudah tahu bagaimana caranya salat, yang ia pelajari lewat internet. Steven bahkan sudah mulai menunaikan salat seperti layaknya muslim, sejak seminggu sebelum ia memutuskan untuk mengucapkan syahadat. Ia juga mulai meninggalkan kebiasaan minum minuman beralkohol dan tidak lagi makan daging babi.

Suatu hari, Samir membawakannya satu box pizza dan minuman ringan. Ia bertanya pada Samir apakah makanan itu halal, karena saar itu Steven masih mengira Samir bukan muslim. Samir menjawab bahwa pizza yang dibawanya halal. Saat itulah Steven baru tahu kalau sahabatnya itu seorang muslim, dan ia mengatakan, "Oh, saya ingin menjadi seorang muslim."

Keesokan harinya, Samir membawa Steven ke rumah seorang iparnya dan disanalah Steven mengucapkan dua kalimat syahadat. "Saya merasa sangat-sangat bahagia, dan sejak itu saya tidak pernah lagi menengok ke belakang," tukas Steven alias Mustafa Samuel.

Steven merasakan perubahan besar dalam dirinya setelah menjadi seorang muslim. "Islam membuat saya lebih disiplin dengan kewajiban salat lima waktu, wudu, menahan lapar saat Ramadan, menahan diri untuk tidak makan daging babi dan minum minuman keras. Islam mengubah semuanya, mengubah keseluruhan dinamika kehidupan saya. Saya jadi lebih tenang, tidak mudah marah, lebih seimbang dalam berpikir, jika dulu saya gampang emosi, sekarang saya lebih rileks," papar Steven.

"Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang yang sabar. Saya sangat bahagia memeluk Islam karena Islam memberikan saya banyak kebaikan yang tidak saya miliki sebelumnya," tandas Steven. (kw/oi)

"Karena Buat Saya, Islam adalah Agama yang Sangat Logis"

Setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan teknik, Yusuf Burke bekerja sebagai teknisi lapangan di General Electric, salah satu perusahaan internasional yang bergerak di sektor kelistrikan. Burke sering dikirim ke berbagai negara untuk mengurus pembangunan pusat pembangkit listrik sesuai bidang pekerjaannya.

Tahun 1994, Burke ditugaskan ke Indonesia, negara mayoritas berpenduduk Muslim pertama yang ia kunjungi. Burke terkesan dengan keramahtamahan masyarakat Indonesia, dan di Indonesia-lah Burke tertarik mendalami agama Islam, hingga ia membulatkan tekad untuk bersyahadat pada tahun 1996.

Burke sebenarnya sudah punya bekal pengetahuan tentang Islam. Ketika masih kuliah, lelaki yang dibesarkan di New York dan berasal dari keluarga penganut Katolik ini, pernah belajar tentang beragam budaya, termasuk beragam agama. Dari situlah ia memahami sedikit dasar-dasar ajaran dalam Islam.

"Saya pikir, yang membawa saya pada Islam, karena Islam buat saya agama yang sangat logis. Sebagai insinyur teknik, saya menghargai hal-hal yang bersifat logis. Saya benar-benar merasakanya dari diskusi saya tentang Islam, dan pengalaman hidup di tengah komunitas Muslim. Saya merasakan persaudaraan di antara mereka dan hal itu membuat saya sangat terkesan," ujar Burke.

Ketika bertugas di Australia dan Malaysia, Burke mengambil kursus agama Islam. Dari orang-orang yang berbeda dan dari cara mereka menyampaikan ajaran tentang Islam, Burke meyakini bahwa Islam adalah jalan yang benar.

Keputusan Burke menjadi seorang muslim, membuat semua keluarganya terkejut. "Tapi saya pikir mereka memahami keputusan saya. Mereka orang-orang yang berpikiran terbuka, dan saya kira mereka menghormarti semua orang, terutama mereka yang menganut agama monoteis," papar Burke.

Meski demikian, Burke tetap merasa perlu memberikan penjelasan mengapa ia memilih Islam, dan ia berharap penjelasan itu sekaligus bisa menghapus pandangan yang salah tentang Islam di AS. Akhirnya keluarga Burke mendukung penuh keislamannya.

Sekarang, Burke aktif sebagai salah satu direktur di Council on American Islamic Relationsh (CAIR) salah satu organisasi advokasi muslim terbesar di AS.

Burke mengungkapkan, selain memberikan advokasi dan meluruskan pandangan yang salah tentang Islam di AS, CAIR membantu komunitas Muslim di AS untuk berintegrasi dan berbaur dengan berbagai lapisan masyarakat di AS.

"Banyak masyarakat AS yang tidak memahami bagaimana Islam memandang suatu persoalan dan bagaimana Muslim memberikan penilaian terhadap berbagai topik dan isu yang muncul di tengah masyarakat AS. Kami ingin membawa sentuhan Islam di Amerika. Jadi, masalah hak dan kebebasan sipil menjadi prioritas kami. Kami membantu setiap muslim yang mengalami perlakuan diskriminatif hanya karena mereka seorang muslim, baik di tempat kerja atau lembaga pemerintahan. Saat ini, ada beberapa kasus yang sedang kami tangani," jelas Burke tentang CAIR.

Ia mengungkapkan, hukum AS yang menjamin kebebasan beragama dan menunaikan ibadah sesuai keyakinan masing-masing menjadi salah satu daya tarik tinggal di negara AS. Tapi kadang banyak orang yang belum memahami hukum itu, misalnya di tempat kerja, perusahaan harus mengakomodasi kebutuhan karyawannya yang muslim, mulai dari hak mengenakan jilbab, waktu salat dan tempat salat.

Jilbab masih sering menjadi persoalan di AS, terutama jika berkaitan dengan aturan pakaian seragam dengan beragam dalih, termasuk dalih keamanan kerja. "Mereka harus diberi pengertian bahwa jilbab merupakan mandat bagi kaum perempuan dalam Islam, dan jilbab sama sekali tidak membahayakan dan selayaknya diizinkan digunakan di tempat kerja," tukas Burke.

Dalam beberapa kasus, tambah Burke, organisasinya berhasil memberikan edukasi dan pemahaman jilbab, dan kewajiban-kewajiban lainnya yang harus dijalankan seornag muslim. Tapi ada juga beberapa kasus yang terpaksa harus menempuh jalur hukum, meski jumlahnya tidak banyak.

Lebih lanjut Burke mengatakan, kasus-kasus yang terjadi kebanyakan karena ketidakpahaman banyak orang tentang Islam, sehingga mereka tidak mengetahui apa tanggung jawab yang harus mereka emban terhadap komunitas muslim seperti yang diamanahkan undang-undang yang berlaku di AS. Di sisi lain, Burke juga berusaha untuk memberikan pengertian pada komunitas Muslim agar mereka mau berbaur dan aktif dalam pemerintahan.

"Komunitas Muslim harus tahu siapa wakil-wakil mereka di pemerintahan, memahami berbagai isu yang berkembang di tengan masyarakat, dan memberikan hak suaranya dalam pemilu," ujar Burke.

Meski komunitas Muslim menghadapi tantangan yang berat, dan menuntut mereka untuk berjuang ekstra keras, Yusuf Burke melihat masa depan yang cerah bagi komunitas Muslim di AS.

"Sepanjang kita tetap memegang teguh prinsip-prinsip yang kita yakini, dan menunjukkan diri sebagai seorang muslim yang baik, saya sungguh yakin, komunitas Muslim di AS memiliki masa depan yang cerah," tandas Burke. (kw/oi)

Khadija Margarid: Gunung Sinai Mengantarnya pada Hidayah Islam

Januari 2004, seperti hari-hari kemarin selama sepekan ini, Margarid sibuk dengan pekerjaan, menyiapkan diskusi untuk desertasi untuk gelar masternya, dan menyusun persiapan perjalanan ke Nepal untuk memuaskan keinginan menyenangkan diri sendiri dan ingin merasakan diri sebagai orang asing di negeri orang, karena sudah dua tahun ini ia tidak liburan.

Margarid ingin sekali mendengar dialek bahasa-bahasa tradisional orang Nepal, mengamati kebudayaan, memahami agama mereka, kebiasaan makan, gaya rumah dan adat istiadatnya. Sudah lama Margarid tertarik dengan ajaran Budha, dan Nepal menjadi tempat yang cocok untuk memenuhi rasa keingintahuannya tentang komunitas masyarakat Budha.

Sebulan sebelumnya, Margarid menghadiri upacara keagamaan di sebut kuil Budha di Lisbon. Itu dilakukannya sebagai persiapan dirinya sendir karena ia berencana untuk menetap di Nepal. Margarid ingin menyaksikan sendiri bagaimana umat Budha menuunaikan ibadahnya dipimpin langsung oleh tokoh spiritual agama Budha, Dalam Lama dan jika mungkin, Margarid juga ingin berlajar teknik meditasi--sesuatu yang ia pikir akan bermanfaat saat mengalami masa-masa sulit, dan Margarid tahu pada suatu masa ia akan mengalaminya.

"Meditasi mungkin bisa membantuku untuk mencari jalan keluar, untuk memberikan pencerahan. Tapi ada rasa takut yang menyerang, karena aku punya keluarga, punya teman, dan sebagai psikolog, aku punya tugas dimana saya juga harus bertanggung jawab pada orang lain," kata Margarid.

Ia menentukan tanggal yang tepat dan mencari tahu harga tiket untuk perjalanan ke Nepal. Margarid berencana untuk naik pesawat ke Delhi, India dan dari Delhi ia akan melanjutkan perjalanan dengan bis ke Kathmandu. Pertimbangannya, untuk menekan biaya perjalanan sekaligus bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat lokal merupakan pengalaman yang lebih menarik baginya.

"Tapi ternyata semua tiket sudah dipesan, dan tidak ada yang bsia dilakukan selain menunggu," ujar Margarid.

Sebulan penuh menunggu tiket perjalanan membuat Margarid gelisah, seperti ada sesuatu yang memaksa dirinya tapi ia sendiri tak mengertai sesuatu itu apa. Hari-hari berlalu, situasi pun berubah. Ibu Margarid tiba-tiba membatalkan rencana perjalanannya ke Mesir dan menawarkan Margarid untuk menggantikannya.

Ketika itu, Margarid hanya menjawab "tidak tahu" apakah ia akan menggantikan perjalanan ibunya ke Mesir. Ia merasa senang ada alternatif lain, tapi Margarid merasa tawaran ibunya tidak penting karena pikirannya sudah tertaut untuk pergi ke Nepal. Hingga suatu ketika, saat sedang melakukan kegiatan rutinnya, Margarid merasa pikirannya begitu jernih dan memikirkan kemungkinan pergi ke Mesir saja, dan bukan ke Nepal.

"Ini ada perjalanan dalam hidupku, ke gurun pasir, menyeberangi Sinai dan mengunjungi Yerusalem," ungkap Margarid yang merasa tiba-tiba darahnya berdesir dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Aku akan pergi (ke Mesir)," tekad Margarid akhirnya.

Ia lalu mulai mengikuti pertemuan sebuah kelompok agama Katolik dan mulai menekuni ajaran agamanya itu. Di saat yang sama, Margarid juga membeli dan mulai membaca Al-Quran untuk mengetahui bagaimana konsep ketuhanan para penganut agama Islam.

Selama ini, kata agama dan kata Tuhan menjadi kosakata yang jauh dalam kehidupan Margarid. Sejak ia remaja dan saat kuliah di Lisbon, Margarid mulai menikmati kesempatan untuk bersenang-senang dengan teman sebayanya termasuk minum minuman keras.

Bulan Mei 2004, Margarid akhirnya menginjakkan kakinya di Mesir. Hari itu, bertepatan dengan hari kenaikan Isa Al-Masih, Margarid berada di puncak pegunungan Sinai, menghabiskan waktunya untuk berdoa, membaca Alkitab dan mencoba lebih mendekatkan diri pada Tuhannya. Margarid merasa bahagia, tapi rasa takut mulai muncul karena di puncak gunung Sinai itu hanya ada dia seorang dan beberapa orang Arab Badui.

Dalam kesendiriannya itu, Margarid merasa mendengar sebuah melodi yang dialunkan dengan sangat pelan dan syahdu. Ia membuka telinga lebar-lebar dan mencoba memfokuskan perhatiannya pada suara yang entah darimana datangnya. "Ya Tuhan, aku belum pernah melihat atau mendengar suara malaikat? Tapi apakah itu suara malaikat?" Margarid bertanya-tanya dalam hati karena tidak mampu mengindentifikasi suara apa yang didengarnya itu, yang memunculkan rasa damai dan nyaman dalam hatinya.

Setelah dari Sinai, Margarid mengunjungi kota-kota di Mesir, dimana ia melihat kaum Muslimin menyempatkan diri salat, meski di jalan, ketika waktu salat telah tiba. Margarid berpikir orang-orang itu sangat rendah hati. "Apa sih ajaran agama mereka?" tanya Margarid dalam hati.

Margarid masih terus mengingat pengalamannya saat di gunung Sinai. Ia merasa Tuhan telah memberikan berkah yang berharga, yang membuatnya merasa kehilangan sesuatu setiap saat memandang ke arah gunung Sinai.

"Saya merasa ada yang hilang, dan tiap kali itu terjadi, membuat saya merasa sedih," ujar Margarid.

Butuh waktu buat Margarid untuk memahami apa yang terjadi. "Sepanjang hidup, saya tidak pernah berlutut di hadapan orang atau bersujud untuk mengungkapkan terima kasih pada seseorang, atau meminta sesuatu pada seseorang," tutur Margarid.

"Tuhan telah memberitahukan saya bahwa Dia-lah satu-satunya yang berhak jika saya harus berlutut," sambungnya.

Apa yang dialaminya di gunung Sinai dan keingintahuannya melihat muslim Mesir yang salat di jalan saat waktu salat tiba, mendorong Margarid untuk mengenal Islam. Ia meneruskan membaca terjemahan Al-Quran, sampai ia kembali ke Portugal dan meneruskan aktivitasnya sehari-hari.

Bulan Januari 2005, Margarid kembali mengunjungi Kairo, Mesir. Kali ini, ia datang dengan perasaan yang berbeda. Pada suatu malam, dari lubuk hatinya yang paling dalam dan dengan suara yang bergetar, Margarid mohon ampun dan meminta agar Tuhan menerima dirinya. Itulah saat Margarid berikrar bahwa "tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah". Ia lalu menambahkan nama Islami "Khadija" di depan namanya. (kw/TTT)

"Setelah Bersyahadat, Saya Seperti Menemukan Sebuah Rumah ..."

Suatu hari, Aaron Siebert-Llera bangun tidur dengan mengenakan kaos bergambar Bintang David, dan keesokan harinya ia bangun dengan mengenakan kaos bergambar salib.

Tapi akhirnya, agama yang ia pilih, bukan agama ayahnya yang Yahudi, dan bukan pula agama ibunya yang keturunan Amerika-Mexico, agama Katolik Roma. Aaron memilih memeluk Islam.

"Saya seperti merasa, akhirnya menemukan sebuah rumah dimana saya bisa menempatkan semua moral saya, idealisme saya, dan bagaimana cara saya menjalani hidup," ujar Aaron.

Sebelum memeluk Islam, ia keluar masuk kerja di klub-klub malam. Namun Aaron yang pernah kuliah di San Francisco State University ini selalu menghindari minum minuman beralkohol.

Ketika ia memutuskan bersyahadat pada tahun 2004, banyak teman-temannya yang meninggalkannya. Kedua orang tua Aaron--meski sudah bercerai sejak putra mereka berusia 7 tahun--menganggap keislaman Aaron hanya sebagai suatu fase saja dalam kehidupan anaknya yang nantinya akan dilepaskan.

Yang paling khawatir adalah ayah Aaron, yang bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Jack--nama ayah Aaron--khawatir setelah memeluk Islam, putranya akan kehilangan selera humor yang menjadi ciri khas anak lelakinya itu, dan tidak lagi memberikan suaranya pada Partai Demokrat.

Kebetulan, Jack juga menjadi anggota komite beasiswa bersama ayah dari John Walker Lindh. Nama Lind dikenal sebagai "Taliban Amerika" yang tertangkap di Afghanistan tak lama setelah peristiwa serangan 11 September 2001, Jack resah Aaron yang saat itu memutuskan menjadi seorang muslim, juga akan mengikuti jejak Lindh menjadi anggota Taliban.

Aaron yang saat itu berusia 31 tahun dan kuliah di jurusan hukum Universitas Loyola, berusaha kerasa meyakinkan ayahnya bahwa ia tidak akan pergi ke Afghanistan dan tidak akan menjadi Taliban.

"Saya tidak akan menjadi seorang sayap kiri yang bodoh, yang pergi melintasi dunia. Saya tidak akan mengubah diri saya," tukas Aaron meyakinkan ayahnya.

Saat jiwanya terdorong untuk melakukan pencarian spiritual, Aaron tidak pernah memikirkan Islam secara serius. Waktu itu, pengetahuannya tentang Islam terbatas pada apa yang ia saksikan di televisi dan film-film.

Meski demikian, rasa ingin tahunya membuncah saat peristiwa serangan 11 September 2001 di AS terjadi, dimana Islam dan Muslim menjadi sorotan tajam. Aaron membeli kitab suci Al-Quran, membacanya dan tidak menemukan bagian dalam Quran yang menyuruh umat Islam melakukan aksi terorisme.

Dari Al-Quran, Aaron memahami dan bisa membedakan antara islamis ektrimis dan mayoritas Muslim yang taat menjalankan ajaran agamanya.

Di kampusnya, Aaron berkenalan dengan seorang perempuan Amerika keturuan Meksiko. Suatu hari, ia melihat perempuan itu masuk ruang kuliah dengan mengenakan jilbab dan busana panjang longgar seperti yang banyak dikenakan kaum perempuan di Timur Tengah. Aaron akhirnya tahu bahwa kenalannya itu sudah masuk Islam.

"Saya betul-betul melihat perubahan pada dirinya. Teman saya itu terlihat begitu bahagia dan menikmati keislamannya. Dia seperti menjalaninya dengan santai," kata Aaron.

Beberapa minggu kemudian, Aaron menemani teman muslimahnya itu ke sebuah masjid lokal di dekat kampusnya. Di masjid itu, ia banyak bertanya dan terkesan dengan apa yang ia pelajari tentang Islam, terutama kewajiban membayar zakat sebesar 2,5 persen dari pendapatan tahunan.

Aaron juga terkesan dengan kewajibab salat lima waktu dalam ajaran Islam, termasuk pergi berhaji ke Mekkah. Ia merasa, Islam bukan sekedar agama yang mengurusi masalah ibadah pada Tuhan, tapi juga mengajarkan kedisiplinan dalam hidup.

Tapi Aaron mengatakan, yang paling ia sukai dari Islam, Islam tidak mengenal hirarki manusia berdasarkan status sosial atau jabatannya. Islam mengajarkan, yang membedakan antara manusia satu dengan manusia lainnya adalah derajat ketakwaannya pada Allah Swt.

Setelah berkunjung ke masjid, Aaron menelpon kedua orang tua dan kakak perempuannya bernama Andrea. Keesokan harinya, ia langsung menyatakan diri ingin masuk Islam, dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Saat itu, tanggal 6 Oktober tahun 2004.

Setelah resmi mejadi seorang muslim, Aaron dengan tekun belajar menunaikan kewajiban salat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, dan menumbuhkan jenggot sesuai Sunnah Rasulullah Saw.

Setahun setelah masuk Islam, Aaron menikah dengan seorang muslimah keturunan Amerika-Suriah yang juga teman di kampusnya, bernama Huda.

Aaron beruntung karena seiring berjalannya waktu, keluarganya akhirnya menerima keislamannya. Suatu hari saat pertama kali menjalankan puasa pertamanya, ibunya menelpon dan menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa pada Aaron,

Kala itu, Aaron berusaha agar telepon seluler selalu berada di tangannya. Ia menunggu kakak perempuan dan ayahnya melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ibunya, mengucapkan selamat Ramdan. Aaron yakin, suatu saat hal itu akan terjadi. (kw/TT)

Sabtu, 26 November 2011

Belajar pada Kehidupan Sang Daun

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.” (QS. Ali Imran [3] : 190-191)

Saudaraku, apa yang kau rasakan saat membaca ayat tersebut? Adakah kau merasakan ajakan Allah Azza wa Jalla untuk memikirkan ciptaan-Nya, yang mana bila kau lakukan maka Dia akan memberi tanda/petunjuk-Nya padamu?

Bila kita merenungi ayat tersebut kemudian mencoba mengikutinya maka akan terasa tanda-tanda itu bicara pada kita. Sebagai contoh sederhana, kau tahu daun kan? Saking banyaknya daun di sekitar kita, mungkin kita tak pernah memikirkan pelajaran apa yang dapat kita petik dari kehidupan daun.

Mungkin saat mengenyam ilmu di sekolah atau kampus yang berkaitan dengan ilmu biologi atau pertanian, ada sedikit pengetahuan akan kehidupan daun kita peroleh dari ulasan guru atau dosen, baik tentang proses fotosintesis, kemanfaatannya buat alam, manusia, hewan juga tanaman itu sendiri. Tetapi bisa jadi kita menelaahnya hanya sebatas itu, tanpa pernah menyentuh hal ini dari sudut pandang iman.

Oleh karenanya Saudaraku, mari sejenak kita perhatikan daun. Ya, sejenak saja dari sekian banyak waktu yang kau habiskan dengan segala rutinitasmu. Kau pasti tahu bahwa sang daun sejak tumbuh ia memiliki peran penting untuk proses kehidupannya sendiri dan tak diragukan lagi teramat banyak manfaat bagi sekitanya termasuk untuk kita. Kau pun pasti sangat faham saat sang daun luruh ke bumi, ia tetap memberi manfaat sebagai humus yang menyuburkan tanah.

Tidakkah kita bisa mengambil hikmah/pelajaran dari siklus hidupnya ini? Ada sebuah tanda yang Allah tunjukkan pada kita tentang kehidupan daun. Mari kita garisbawahi, bahwa sejak tumbuh hingga luruh ke bumi ia bermanfaat untuk sekitarnya.

Tidakkah kita menginginkan kehidupan kita bisa bermanfaat seperti kehidupan sang daun? Di mana hal ini selaras dengan apa yang diriwayatkan dari Jabir berkata, ”Rasulullah saw bersabda, ’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia'.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Mari sejenak kita renungi pula hadits ini, dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah? dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang Muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

Mereka, kata Rasulullah saw, adalah sebaik-baik manusia. Mereka mendapatkan cinta Allah karena kebaikan dan manfaat hidupnya terhadap orang lain. Para sahabat pada masa Nabi memahami secara mendalam sebuah kaidah usul fiqih yang menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri.

Tidakkah kita ingin mendapat cinta Allah dengan menjadi bagian dari “Khairunnas anfa’uhum linnas?” Kurasa tak ada seorang pun yang tak menginginkan dicintai Allah. Bila demikian, mari kita tengok diri kita, apa saja yang sudah diperbuat sepanjang perjalanan hidup kita, adakah yang kita lakukan telah bermanfaat tak hanya untuk diri pribadi tetapi berguna pula untuk orang lain? Bagaimana peran kita selama ini sebagai anak, sebagai suami atau isteri, sebagai ayah atau bunda, sebagai bagian dari masyarakat, sebagai pekerja, pengajar, pedagang, pencari ilmu, atau sebagai apa pun peran yang saat ini sedang dilakoni? Apa pula yang kita ingin orang lain sebutkan tentang diri kita saat meninggalkan kefanaan dunia?

Bila perjalanan hidupmu Saudaraku… masih sama denganku, masih jauh dari bermanfaat untuk sekitar, mulai saat ini mari menyusun langkah dan menata aktivitas kita dengan berorientasi pada kemanfaatan untuk orang banyak. Dengan segenap potensi yang Allah karuniakan, mari kita berjuang menjadi pribadi yang dicintai-Nya.

Indah sekali rasanya bila hidup kita diwarnai semangat untuk selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain. Elok juga rasanya bila ajal telah tiba mengakhiri aktivitas kita di dunia, namun nilai kemanfaatan dari apa yang kita lakukan tetap dirasakan oleh mereka yang masih berkelana di dunia.

Sungguh sangat bermakna pula ketika kita dapat memikirkan tanda-tanda dari ciptaan-Nya, seperti sang daun itu. Mari kita segera bergerak untuk belajar pada kehidupannya: dari tumbuh hingga luruh meninggalkan manfaat untuk sekitar.

Menyambut tahun baru Hijriyah yang sebentar lagi akan kita songsong, mari kita hadirkan dalam hati tentang kehidupan sang daun dan merefleksikannya dalam tingkah laku kita . Menjadikan ia bagian dari inspirasi hidup kita. Semoga dengan mengingat dan belajar pada salah satu ciptaan Allah ini, membuat kita terpacu menjadi bagian dari "Khairunnas anfa’uhum linnas".

www.ratnautami.com

Kamis, 24 November 2011

Kesendirian Tidak Selalu Mematikan!

Hi Sahabat bloggerku yang luar biasa, banyak orang yang tidak menyukai kesendirian,
karena waktu yang dilewati terasa lebih panjang dan
melelahkan.
 
'Sendiri oh sendiri'... Ternyata hal remeh ini bisa 
menjadi masalah besar bagi sebagian orang! 

Apakah Anda termasuk yang demikian? :-)
 
Memang, kesendirian seringkali diidentikkan dengan hal 
yang menakutkan, mengesalkan, bahkan menjadi simbol 
kesedihan. Namun, jika kita mau membuka pikiran, 
sebenarnya kesendirian itu tidak selalu mematikan!

Kesendirian bisa memiliki dua makna...
 
Pertama, kesendirian menyangkut fisik yang sebenarnya,
tanpa ada orang di sekitarnya. Kedua, hanya berbentuk
perasaan saja.

Bisa jadi seseorang berada di tengah keramaian, namun
merasakan kesunyian. Mungkin Anda pernah mengalami 
hal serupa, terutama ketika menemui masalah dengan 
rekan kerja, sahabat, keluarga, atau pacar? :-) dan lain 
sebagainya..!
 
Satu hal yang perlu Anda ingat, kesendirian dengan arti
apapun sebenarnya bukan masalah jika kita mampu
mengelolanya dengan baik, atas perasaan, sikap dan 
segala situasinya.
 
Bagaimana kita bisa mengelola kesendirian supaya lebih
bermakna? Lakukan hal berikut :
 
1. Cari kesibukan dengan melakukan aktivitas positif 
    yang sangat Anda sukai, misalnya dengan membaca,
    menulis, olahraga, menyanyi? :-) Apapun kesukaan 
    Anda. Dengan cara ini, kesendirian akan terasa lebih 
    menyenangkan!
 
2. Kedua, ingat-ingat kembali hal-hal yang menjadi 
    impian Anda dan belum sempat dilakukan. Anda bisa 
    membuka agenda-agenda pribadi, foto-foto jaman 
    dulu, buku-buku, dan lain sebagainya.
 
    Percaya, cara ini akan menyadarkan Anda akan 
    sempitnya waktu untuk mewujudkan segalanya. 
    Kalau sudah begini, bukankah kesendirian itu jadi 
    menyenangkan? ;-)
 
3. Ketiga, buat daftar sebanyak-banyaknya tentang 
    keinginan yang ingin Anda wujudkan selagi masih 
    hidup. Mungkin dengan cara menuliskan kembali 
    'keinginan gila' saat Anda masih kecil? Atau mimpi-
    mimpi lain yang belum terlaksanakan?
 
    Saat itu Anda akan sadar, ternyata banyak sekali
    hal yg memerlukan kesendirian utk mewujudkannya!
 
4. Dan yang terakhir.... Sebenarnya ini merupakan hal 
    *utama* dan yang pertama yang harus Anda lakukan... 
    Mendekatlah kepada Yang Maha Mencinta diri Anda.
    Kesendirian ini akan semakin menyadarkan hakekat 
    keberadaan Anda di dunia.
 
    Semakin keyakinan ini kuat, maka akan semakin 
    kokoh kemampuan Anda mengarungi kehidupan, 
    dengan segala situasinya.
 
Intinya, jangan biarkan Anda terjebak dalam kesendirian
dengan suasana 'hati yang negatif', membiarkannya
berlarut-larut, hingga membuat Anda putus asa.
 
Kalau Anda mau membuka mata, kita sebenarnya tidak 
pernah benar-benar sendiri. Ada orang lain di sekitar 
kita. 
 
Yang jelas, pasti selalu ada orang yang bisa Anda 
jadikan teman, dan ajak bicara!
 
Jika Anda mau terbuka, dalam kesendirian Anda bisa
merenungkan banyak hal. Dalam kesendirian Anda bisa
menemukan kedewasaan, kebijaksanaan, ide brilian, 
dan memaksimalkan potensi yang Anda miliki.
 
Dalam kesendirian pula Anda bisa mengungkap 
kejujuran, yang bisa jadi terkalahkan oleh sombong dan
ego yang seringkali Anda temukan di keramaian!
 
Tidak bisa dipungkiri, kesendirian bisa datang kapan 
saja kepada setiap orang, termasuk kepada Anda.
 
Nah, jika suatu saat atau bahkan saat ini Anda sedang
dilanda 'kesepian' alias merasa 'sunyi sepi sendiri',
Anda harus ingat, bahwa kesendirian tidak selamanya
mematikan!

Kelola-lah perasaan Anda dengan baik, dan buatlah
kesendirian menjadi lebih bermakna. :-)